Inspiratif KPI--- Bagi sebagian orang, Jepang hanyalah destinasi liburan. Bagi Haisa, alumni Program Studi (Prodi) Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI) Fakultas Ushuluddin, Adab & Dakwah IAIN Parepare, negeri itu adalah mimpi yang ia rawat sejak kecil, dan kini telah ia jalani sebagai tempat bekerja dan merantau.
Haisa, anak bungsu dari keluarganya, lulus dari Prodi KPI pada 2024. Keinginannya ke Jepang tumbuh saat duduk di bangku SMK, ketika guru bahasa Jepang kerap menceritakan negeri itu. “Kalau orang lain bisa pergi ke Jepang, kenapa saya tidak?” ujarnya mengenang pikirannya kala itu.
Saat kuliah di IAIN Parepare, sekitar semester 4, Haisa bergabung dengan kelas tambahan Pusat Studi Jepang (PUSPA) yang dibimbing dosennya, Fivi Elvira Basri, M.A, alumni penerima beasiswa ke Jepang. Di sana ia kembali belajar bahasa Jepang, mulai dari huruf hiragana hingga jikoshoukai atau perkenalan diri. “Waktu itu saya belum tahu akan dibawa ke mana,” tuturnya.
Setelah lulus, Haisa menjalani beragam pekerjaan: admin media sosial freelance di Samarinda, eksekutif penyewaan jas, Quantum Store di Parepare, hingga toko roti di Lamajjakka, Pinrang. Penghasilannya hanya cukup untuk kebutuhan sehari-hari, sehingga sulit menabung. “Kalau saya terus begini, kapan saya bisa mewujudkan impian ke Jepang?” pikirnya.
Ia pun belajar bahasa Jepang secara otodidak, menghafal hiragana, katakana, dan kosakata, lalu mengikuti kelas daring selama sebulan (8 pertemuan). Ia juga mengikuti pelatihan bahasa Jepang dari Disnaker Parepare yang berlangsung di Institut Teknologi Bacharuddin Jusuf Habibie dan Mal Pelayanan Publik, lengkap dengan seleksi dan wawancara. Untuk memperbesar peluang, ia mendaftar ke Lembaga Pelatihan Kerja (LPK) dan mengikuti program matching job.
Tantangan terbesar justru datang dari rumah. Berkali-kali Haisa meminta izin, berkali-kali pula sang ibu menolak karena khawatir anaknya merantau jauh. Namun kesungguhan Haisa belajar di sela pekerjaan perlahan meluluhkan hati ibunya.
“Ibu akhirnya mengizinkan dengan berkata, ‘De’ usorongiko na’ lao no malai dallemu nak, yang penting madisinko ku madising to’ (Saya tidak menyuruh/memaksa kamu pergi, kalau memang itu sudah menjadi rezekimu, pergilah yang terpenting kita berdua sehat),” kenang Haisa.
Sekitar tujuh hari sebelum Ramadan, sensei menelepon dan menawarkan wawancara kerja. Itu wawancara pertamanya untuk bekerja di Jepang. Haisa menjawab mantap, dan dinyatakan lulus.
Ia lalu mengikuti diklat dan tinggal di asrama, serta diminta mengusahakan sertifikat Japanese Language Proficiency Test (JLPT) N4. Haisa sempat ragu karena merasa kemampuannya belum kuat. Sehari sebelum ujian yang jatuh pada hari Jumat, ia menelepon orang tuanya, meminta doa. Hasilnya, ia lulus.
Dokumen Certificate of Eligibility (COE), paspor, dan visa pun rampung. Namun, seminggu sebelum keberangkatan, ibunya jatuh sakit dan dirawat di rumah sakit. “Pikiran saya benar-benar tidak tenang,” kenangnya. Alhamdulillah, kondisi sang ibu berangsur membaik hingga Haisa dapat berangkat.

Ditanya soal kontribusi KPI dalam perjalanannya, Haisa menyebut keberanian tampil sebagai bekalnya. “Saat wawancara, saya berani berbicara di depan orang Jepang. Dulu saya tidak percaya diri berbicara di depan orang banyak, tapi karena terbiasa dengan tugas dan praktik di kuliah, saya bisa melakukannya,” jelasnya.
Ia mengaku tidak menyesal memilih kuliah lebih dulu, meski sempat bisa langsung ikut program ke Jepang sementara masih berjuang membujuk orang tua. “Tidak ada penyesalan, bahkan sangat bersyukur. Banyak hal yang saya dapatkan,” katanya.
Di Jepang, Haisa menjalani senta (masa pelatihan) selama sebulan sebelum masuk perusahaan. Ia beradaptasi dengan bahasa, cuaca, dan kebiasaan yang berbeda, serta bersepeda setiap hari. Ada hari-hari ketika rindu rumah terasa berat. “Tapi setiap mengingat perjalanan panjang yang telah saya lewati, saya sadar sudah melangkah sejauh ini bukan tanpa alasan,” ujarnya.
Haisa menjadi yang orang pertama di keluarganya yang bekerja di Jepang. Ia menutup kisahnya dengan pesan bahwa mewujudkan impian bukan hanya soal keberanian pergi, tetapi juga kesabaran berproses, keteguhan berusaha, dan keikhlasan menerima ujian. Ia berharap dapat belajar sebanyak mungkin dan membawa pulang pengalaman yang bermanfaat. (hyn)